Teliti Artefak hingga Serat, Jamu Diajukan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

intervalinstitute.com – Jamu begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Bisa kita kenal dari film, sinetron bahkan lingkungan sehari-hari, ibu jamu gendong berkeliling menjajakan dagangannya.

Selain itu, masyoritas telinga masyarakat tanah air tentu juga tak asing dengan lagu tradisional ‘Suwe Ora Jamu’. Jamu mampu membuat badan sehat, dari pegal-pegal hingga sebagai obat kuat.

Sangat mendarahdagingnya jamu dalam sejarah kesehatan bangsa, jamu menjadi warisan budaya yang tak bakal dilupakan.

Baru-baru ini Tim Kerja Nominasi Budaya Sehat Jamu bersama 4 Gabungan Perusahaan (GP) secara resmi telah memberikan dokumen pendukung jamu (ICH-02) sebagai Warisan Budaya Tak Benda kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Senin (13/3) lalu.  

Kabar ini disampaikan oleh peneliti dari Tim Kerja Nominasi Budaya Sehat Jamu Erwin J Skripsiadi. Kondisi kesehatan dunia yang menderita pandemi Covid -19 saat ini, menjadi momentum yang tepat bagi Jamu diajukan sebagai Intangible Cultural Heritage UNESCO.

Hal ini lantaran jamu dikenal dapat menyehatkan badan dan menambah imunitas tubuh.

Jamu Gendong (jalur rempah kemendikbud)

Untuk keperluan UNESCO, Erwin mengungkapkan penelitian Jamu difokuskan pada ranah budaya.

“Jamu gendong itu setiap pagi selalu melewati rute yang sama. Artinya sebenarnya ini menunjukkan bahwa jamu itu minuman yang harus diminum setiap hari dan secara teratur. Jamu itu promotif, bukan Cuma kreatif,” ungkap Erwin seperti dikutip dari Antara.

Adapun yang diteliti oleh tim nominasi ini meriset budaya jamu melalui pembacaan artefak meliputi relief Candi Borobudur, prasasti Bendosari, maupun prasasti Madhawapura.

Bukan saja melalui artefak, Tim Kerja Nominasi ini turut meriset bermacam serat, termasuk Jampi Jawi yang mengandung ribuan resep mengenai aneka jenis jamu dan juga serat Centhini yang berisi esiklopedia jamu.

“Itu kekayaan yang bisa menjadi bukti bahwa jamu ini benar-benar memiliki  akar yang sangat kuat di budaya Indonesia,” ungkap Erwin.

Hal yang sama diungkapkan oleh Konsultan Penelitian dan Penulis Dokumen ICH-2, Gaura Mancacaritadipura. Menurutnya, jamu telah ada di nusantara sejak lebih dari 1.200 tahun lalu hingga saat ini masih dikonsumsi.

Gaura berpendapat bahwa Karena kondisi dunia sedang sakit pandemi, jamu dapat menjadi sumbangsih Indonesia untuk kesehatan dunia.

jalur rempah kemendikbud

“Ini adalah sumbangsih bangsa Indonesia pada kesehatan dunia. Sesuatu yang luar biasa di tengah zaman sekarang dengan banyaknya penyakit. Indonesia telah berusaha berbuat baik. Tentu saja ini harapan kita semua,” imbuh penulis dokumen nominasi Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO tersebut.

Selain hasil penelitian berupa dokumen yang diserahkan tersebut, terdapat pula berupa foto, dan video dokumenter.

Tim Kerja tersebut juga melakukan penelitian terdapat komunitas maupun pelaku jamu di empat provinsi berbeda di tanah air, yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta DKI Jakarta.

Diharapkan jamu berhasil ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Dunia UNESCO dan menjadi sumbangsih Indonesia untuk dunia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.