Satu Napas Kemanusiaan

intervalinstitute.com – Hak asasi tidak lagi asasi. Bila nyawa manusia, sesuatu yang paling asasi, bisa dicabut melalui hukuman mati. Suatu hukuman yang bagi Albert Camus adalah “pembunuhan yang paling terencana”. Bahkan dirayakan bak pesta dengan sorak-sorai massa.

Todung Mulya Lubis, advokat ternama dan aktivis HAM, merilis novel pertamanya. Novel berjudul ‘Menunda Kekalahan’ ini diilhami dari pengalaman pribadinya menangani kasus Bali Nine di mana terpidana mati asal Australia dieksekusi pada tahun 2015. Dua terpidana dituduh menjadi kingpin penyelundupan narkotika.

Dari kuburan waktu, kisah dibangkitkan ulang. Dengan begitu, kisah menghimpun makna sekaligus mengundang tanya. Bukan saja apa yang terjadi, tetapi apa artinya kisah itu bagi kita. Misal, bukankah headline media massa sudah cukup menceritakan kasus tersebut. Dan, Todung Mulya Lubis dianggap kalah dalam perkara ini.

Di balik layar tak sesederhana itu. Dengan konflik yurisprudensi yang keras, novel ini menampilkan ketegangan antara moralitas dan rasionalitas yang menjadi lahan eksploitasi politik, black market of justice, mafia hukumDi situ keadilan dan prosedur hukum tak bersinonim. Topan dikalahkan. Kemanusiaan dikerdilkan.

***

Topan Luhur adalah pengacara yang menangani kasus ini dalam novel. Awalnya kasus ini ditangani pengacara lain yang blunder di pengadilan negeri. Pada uji materiil di Mahkamah Konstitusi, baru Topan menangani.

Bersama timnya, ia menjadi pembela dua terpidana mati, Allan dan Misa. Bukan karena Topan pro peredaran narkotika, justru menolaknya dengan gigih, melainkan karena pro hak asasi manusia. Bahwa “hak hidup manusia tak boleh dilanggar dengan keadaan apapun” (hal. 153).

Allan dan Misa memang bersalah, dan boleh dijatuhi hukuman berat bahkan penjara seumur hidup, tetapi jangan hukuman mati. Apalagi “hukuman mati itu inkonstitusional, tidak menyelesaikan persoalan, dan tak terbukti memberi efek jera” (hal. 172).

Terinspirasi dari kisah nyata tentu membuat akhir cerita telah diketahui. Bahkan ujung cerita diletakkan di awal. Namun, hal ini tidak membuat kisah menjadi kering. Justru menimbulkan keingintahuan yang menghantui.

Tentang tahap demi tahap prosedur hukum, bagaimana argumentasi dibangun, strategi disusun, bagaimana menjelaskan yang buram, mengangkat bukti-bukti yang karam, dan dalil dipertahankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *