Multatuli, Feodalisme, dan Kita

Lebih dari itu, kita harus memulai membicarakan peran rakyat yang mampu mengubah sejarah. Memori kebertubuhan dari rakyat itulah yang perlu diangkat sebagai penyeimbang sejarah nasional, yang adalah sejarah elite saja. Misal, runtuhnya sistem tanam paksa bukan karena faktor novel Max Havelaar saja, melainkan juga pemberontakan petani yang masif. Dan juga peran gerakan perempuan. Ini dilupakan.

Hari-hari ini, gerakan protes sosial di banyak negara memberi pelajaran bahwa rakyat juga tak mudah dibodohi elite. Gerakan tersebut diinisiasi kelas menengah, karena lebih melek lingkungan dan politik.

Sedangkan, kelas menengah di Indonesia masih saja ada yang sibuk mengkultuskan tokoh dan memaksa rakyat kecil untuk nrimo. Dengan jalan pikiran tadi, feodalitik semacam ini menumpulkan kewaspadaan terhadap neokolonialisme.

Membongkar politik memori atas Multatuli dan pencarian sejarah yang tercecer kiranya menjadi awal kita menyadari akan permainan pengkultusan tokoh siapa pun itu demi kepentingan tertentu.

Artinya, garis pikirannya dapat dirumuskan: desakralisasi tokoh berarti anti-feodalisme juncto anti-patriarkisme. Dan, itu berarti anti-kolonialisme, serta ujungnya berarti kritisisme. Dengan cara itu kita bersama-sama merawat Indonesia.***

Tulisan ini pernah dimuat di rubik Basabasi.co edisi 11 Maret 2020

Bisa langsung dibaca di llink https://basabasi.co/multatuli-feodalisme-dan-kita/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *