Multatuli, Feodalisme, dan Kita

Memori itu menubuh, sedangkan sejarah itu menempel. Seperti lengan pada tubuh, tak mudah memori dilepaskan. Sebaliknya bagaikan baju, sejarah itu dapat digonta-gantikan. Dalam dualitas itu elite mempermainkan sejarah untuk menubuhkannya pada masyarakat demi kepentingan politik.

Dalam permainan ini diperlukan sosok ‘pahlawan’ yang akan dikultuskan. Sebut saja sosok itu adalah Multatuli. Sebab novel yang dituliskannya, berjudul Max Havelaar, dianggap oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai buku yang membunuh kolonialisme.

Melalui novel inilah, tokoh-tokoh pendiri bangsa memiliki gambaran apa itu kolonialisme dan melawannya. Sehingga hampir semua pendiri bangsa—dari kanan hingga kiri—mengaku Multatulian, sampai sekarang. Karena itu, pada sejarah Indonesia terikat dan terkandung politik memori atas Multatuli.

***

Tanggal 2 Maret 2020 adalah hari peringatan 200 tahun Multatuli. Ada yang berbeda pada peringatan itu. Tak seperti biasanya yang mengagung-agungkan pengarang novel Max Havelaar tersebut, justru kali ini hendak melepaskan pengkultusan atasnya.

Peringatan itu dibarengi dengan bedah buku Mitos dari Lebak karya Rob Nieuwenhuys di Gedung Muhammadiyah Yogyakarta. Hadir sebagai pembicara adalah sejarawan JJ Rizal, Ghifari Yudistiadhi dan FX Domini BB Hera.

Buku yang diterjemahkan Sitor Situmorang ini berisikan semacam gugatan terhadap ketulusan Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker, dalam upayanya membela pribumi. Rob menimbang ulang kebenaran faktual di Lebak tahun 1856 serta gaya penulisan novel Max Havelaar yang justru lebih menyalahkan bupati Lebak, dan malah menyamarkan nama-nama pihak Belanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *