Geliat Penerbitan di Musim Pandemi

Banyak kemudian banyak penerbit akan berguguran jika kondisi ini dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Sebagian penerbit saat ini mencoba bertahan dengan memotong gaji editor. Ada pula yang terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja.

“Gramedia dan Mizan, sebagai penerbit mapan sekalipun, sudah mulai mempertimbangkan sejumlah skenario untuk bertahan, seperti pengurangan komponen gaji di sejumlah level atas,” cetus Anton Kurnia yang dalam kesempatan lain saat mengisi diskusi bertajuk “Prospek Dunia Perbukuan Indonesia 2021: Vivere Pericoloco” yang digelar oleh yayasan 17.000 Pulau imaji.

Menurut Anton, pemerintah Indonesia seharusnya meniru apa yang dilakukan oleh sejumlah negara dengan mengaktifkan perpustakaan untukk bisa diakses secara daring oleh masyarakat. Mereka juga memberikan insentif kepada perpustakaan untuk membeli buku-buku daring, termasuk buku audio, dari penerbit.

Pemerintah Republik Ceko, misalnya, mengucurkan dana kepada perpustakaan pusat untuk membeli buku eletronik dari para penerbit senilai 370 ribu euro atau hampir Rp 6,5 miliar.

“Adapun pemerintah Republik Irlandia mengeluarkan dana senilai hampir Rp 3,5 miliar untuk membeli 5.000 buku elektronik dan buku audio bagi perpustakaan umum,” terang pendiri penerbit Baca dan mantang anggota Komite Buku Nasional ini.

Pelaku industri buku di Indonesia sebenarnya telah menempuh jalan-jalan alternatif untuk tetap hidup di masa pandemi, seperti menjual buku dan menggelar acara literasi secara daring: Indonesia International Book Fair yang diadakan pada September tahun lalu misalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *