Demi Selamatkan dari Citra Erotis, Budayawan Bali Minta Ruang Tampil Tari Joged Bumbung Klasik Diperluas

intervalinstitue.com – Tari Joged Bumbung Klasik dibebani oleh citra negatif. Hal ini lantaran lahirnya Joged Bumbung lain bernama Joged Bumbung Jaruh.

Eksistensi dari Joged Bumbung Jaruh ini dianggap menimbulkan kesan cabul bahkan porno. Selain itu, kesan negatif ini turut berdampak pada budaya pertunjukan Bali lainnya.

Mantan Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia, meminta kepada pemerintah daerah memberi ruang tampil lebih luas bagi tari Joged Bumbung Klasik sebagai upaya penyelamatan seni tari pergaulan Bali.

“Akahkah tari Joged Bumbung Jaruh (porno) seperti ini dibiarkan terus meracuni etika moral para generasi Bali? Apalagi Joged Bumbung telah mendapatkan pengakuan UNESCO,” ungkap Prof. Dr. I Wayan Dibia dalam workshop Tari Joged Bumbung di Taman Budaya, Denpasar, Jumat (18/3).

Menurutnya, tari Joged Bumbung Klasik harus diselamatkan supaya tari Joged Bumbung lain, yakni Joged Bumbung Jaruh, tidak lebih beredar ke masyarakat luas, apalagi di media sosial.

“Agar kemunculan Joged Bumbung Jaruh tidak sampai mematikan tari Joged Bumbung itu sendiri perlu segera dilakukan upaya penyelamatan,” kata Budayawan yang memperoleh penghargaan seni tertinggi bernama Padma Shri tahun 2021 tersebut.

Tari Joged Bumbung Klasik (kemendikbud)

Sebagai informasi, tari Joged Bumbung Klasik lahir sekitar tahun 1940-an di Desa Kalapaksa, Kabupaten Buleleng. Sementara pada tahun 1990-an, tari yang asli ini mengalami pergeseran secara perlahan menjadi pertunjukkan jaruh atau cabul.

Apalagi beberapa tahun belakangan ini, Joged Bumbung dengan orientasi aksi erotis dan vulgar di atas pentas tersebut telah menyebar di media sosial.

Joged Bumbung Jaruh ini sudah melanggar tiga landasan kesenian Bali meliputi Satyam (kebenaran), Siwam (kesucian), dan Sundaram (keindahan).

“Dalam tradisi budaya Bali, gerak-gerak yang bersifat jaruh (cabul) yang dilakukan tidak pada tempatnya, turut dipandang sebagai sesuatu yang merusak kesucian dan tentu tidak patut dilakukan di depan umum,” tegasnya dikutip dari BeritaBali.

Meskipun Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan bersama Listibiya Bali, MUDP, serta didukung pihak kepolisian telah melakukan upaya-upaya pembinaan dan  penyelamatan sejak tahun 2010, namun Prof. Dr. I Wayan Dibia mengusulkan tiga upaya penyelamatan, yang pertama memperluas ruang tampil.

“Selama ini ruang tampil tari Joged Bumbung klasik masih relatif terbatas. Jika masyarakat telah sering menyaksikan pertunjukkan tari Joged Bumbung klasik, maka masyarakat akan semakin tahu perbedaan tari joged yang pantas untuk di depan publik atau tidak,” ujarnya.

Kedua, tari Joged Bumbung Klasik dapat diinovasi dengan polesan dan teknik penampilan baru. Contohnya, tari Joged Bumbung dapat diisi dengan 6 sampai 10 penari dengan kemasan pola koreografi yang ciamik dan menarik.

kemendikbud

Terakhir, perlunya digelar festival-festival Joged Bumbung secara berkala, mulai dari kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Hal ini supaya publik luas lebih memiliki kesempatan menyaksikan tarian berdasarkan pakem.

Adapun pertunjukkan pakem yang ditabrak oleh tari Bumbung Jaruh ialah pentas arja muani, bondres, prembon hingga calonarang.

“Gerak porno berlebihan dalam bondres meski mungkin bisa membuat penonton tertawa, secara tidak langsung telah melecehkan nilai-nilai kewanitaan,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.