Cengkih dan Ingatan yang Membekas

intervalinstitute.com – Peristiwa buruk lebih mudah membekas dalam ingatan. Bukan sekadar sebagai pelajaran, melainkan juga mengendap begitu dalam.

Namun, ingatan yang dipelihara turun-temurun acap kali sekadar dibesar-besarkan. Akibatnya, apa yang diceritakan sebenarnya tidak benar-benar terjadi. ”Sampai hari ini, tak ada yang tahu mana potongan kisah yang sepenuhnya benar, dan mana yang sekadar prasangka. Segala sesuatu tetap samar” (halaman 2).

Novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga berkisah tentang berbagai ingatan tokohnya dan ingatan kolektif masyarakatnya. Tidak sekadar meneruskan ingatan kolektif masyarakat, Erni Aladjai berupaya memberi counter narasi terhadapnya.

Seperti biasa, Erni kembali meramu persoalan desa. Cerita dibuka dengan tragedi berdarah di kebun cengkih pada 1950. Tragedi inilah yang menjadi pijakan ingatan kolektif masyarakat. Ingatan yang salah menimbulkan relasi sosial yang renggang. Di titik ini Naf Tikore, pihak yang dianggap bersalah, dikucilkan dan dibuang oleh masyarakat.

Kisah melompat ke 1990, tentang rumah tua yang diberi nama Rumah Teteruga. Haniyah dan putrinya, Ala, adalah generasi ketiga dari pemilik rumah tersebut. Teteruga artinya penyu, hewan yang berdaya ingat kuat dan berinsting kembali ke tempat asalnya (strong homing instinct).

Dan, rumah memang tempat ingatan dirawat. Baik itu ingatan yang menggembirakan maupun ingatan yang menyedihkan. Di rumah itulah Ala mencatat ejekan demi ejekan teman-teman dan gurunya di sekolah hanya karena ia bermata juling.

Guru yang seharusnya melindungi justru menjadikan sekolah bak neraka. Lingkungan yang permisif terhadap perundungan.

Meskipun bisa membalas, Ala tak pernah melakukannya. Keadaan yang membuatnya terus tenggelam dalam kesedihan. Cerita yang gelap, tetapi Erni berhasil mengemasnya dalam porsi yang tepat. Sehingga tidak lebay dan kisah terasa hidup.

Dunia yang Ala lihat adalah dunia yang penuh rumor dan salah paham. Pengalaman kebertubuhan itulah yang mengajarkannya.

Karena itu, terhadap ingatan kolektif masyarakat, Ala adalah anomali. Ala tidak merelakan memorinya dihegemoni oleh narasi kolektif masyarakat. Ia tidak memercayai sesuatu sebelum melihatnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *