Batu Loyang

“Kan di agama kita tak boleh percaya pada kekuatan selain Tuhan. Mungkin karena saking hebatnya cincin akik bertuah itu pergi mencari tuannya yang baru.”

“Ya, ndak mungkin bisalah pak Kades cincin akik itu kan hanya batu, mana mungkin bisa jalan sendiri dan mencari tuan yang tepat untuknya. Pak kades ini bercanda.”

“Yang bercanda itu Sampean pak Heru. Gimana pula cincin batu itu memberi pertolongan dan keberuntungan kepada pak Heru. Cincin itu kan batu, batu ya esensinya tetap dari dulu batu. Tak bisa memberi petuah apapun.” Sahut pak Kades mencoba meluruskan pikiran pak Heru.

Tanpa bicara lagi pak Heru pergi meninggalkan pak Kades. Simpul kesal terikat di wajahnya. Ia merasa dirinya tak akan seberuntung dahulu. Jika tak kembali cincin akiknya, terpaksa ia akan membeli lagi. Itu pun bila memiliki uang berlebih, bila tidak, tak peduli mencuri sekalipun ia lalukan untuk memperoleh tuah batu loyang dari cincin itu.

Sekalipun ia guru agama, masa bodoh dengan pangkat itu. Toh itu hanya pekerjaan bukan kepribadian. Tak ada sangkut pautnya pekerjaan dengan akhlak kita yang sesungguhnya. Walau ia jadi teladan saat mengajar, menjadi bajingan ketika kesasar.***

1 Jangan hutang melulu.

2 Hutangmu sudah banyak, sudah menggunung.

3 Bagaimana aku menggajimu.

4 Makanmu itu tak kenal batas, malah rugi aku. Sudah silakan cari kerja sana.

One thought on “Batu Loyang

  1. Respected online casino https://biamo.bet/ that makes payouts. Quick payouts, pay any way you like. A lot of different online roulette. Wide range of sports betting, online streaming, work worldwide. Come and win with us.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *