Batu Loyang

Tak disangka ada yang mengganjal di pantatnya, nampaknya Sukri menduduki sesuatu. Sukri meraih sesuatu itu, terlihat olehnya cincin dengan batu loyang sebagai hiasannya. Diusap terlihat indah sangat cincin batu itu. Ada sesuatu di dalamnya yang memancarkan cahaya bila tersiram binar mentari.

Mungkinkah ini cincin akik yang lagi populer dan terbilang mahal itu. Dalam benak Sukri, mengapa tak menanyakan hal itu ke orang ahli tentang batu akik untuk mengetahuinya. Ya, semua itu perlu dicoba agar tahu. Sukri pun membawa Cincin itu ke tukang emas. Ya siapa tahu mereka paham.

Setibanya di tempat tujuan, Sukri bertanya tentang keaslian dan harga. Ia melihat di sana juga terpajang banyak cincin akik. 

“Ya, kalau mau lima juta mas.” Kata penjaga toko.

Sukri terkejut. Batu yang diremehkannya semahal itu.

“Tambahin sedikit lah, mas. Masak cincin sebagus itu seharga segitu.” Sukri mencoba memancing harga yang sebenarnya.

“Penawaran terakhir tujuh juta deh, gimana mas.”

“Ya, udah. Deal.”

Senang hati Sukri, tak menyangka ia tertimpa rezeki dari sebuah batu. Tak habis pikir ia, dulu batu tak ada guna, dibuang tak bermanfaat. Namun, kini hanya karena lagi ngetren semua bisa terbalik begitu hebatnya. Menjadikan suatu yang tak berharga berubah sangat dikagumi hanya dengan kepuasan mereka yang memandang.

Lebih tak ternalar olehnya, mereka yang mengoleksi kebanyakan dari orang berpendidikan dan terpandang. Sebenarnya siapa yang bodoh jika demikian. Ah masa bodoh dengan semuanya, kembali ke prinsip awal Sukri, ia tertipu atau tidak pun, tak ada masalah baginya. Yang penting ia tak merasa rugi dengan semua ini.

Teringat oleh Sukri, pak Heru tetangganya, seorang pengajar agama di sekolah ternama. Tempo hari Sukri mendapatinya kebingungan lantaran cincin akik yang biasa menghiasi jarinya tak berada di tempat. Saking paniknya kehilangan benda yang paling ia cintai, guru agama itu melaporkannya ke pak RT hingga pak lurah. Hampir-hampir ke kantor polisi.

“Pak kades, cincin kesayangan saya hilang pak. Cincin akik satu-satunya. Tolong pak, tolong saya.” Rengek pak Heru.

“Tenang pak Heru, tenang,  Jangan panik. Jelaskan kronologi hilangnya.”

“Gini pak. Ketika saya hendak ke WC, menurut ajaran agama saya, sesuatu yang baik dan berharga harus dilepas. Ya, saya lepas cincin akik bertuah itu dan saya letakkan di atas tembok sebelah luar WC. Eh, tahu-tahunya setelah saya selesai, cincin itu tak ada, hilang sudah cincin itu. Padahal harganya enam juta Lho pak. Tolong bantu saya pak. Tanpa cincin itu keberuntungan saya tinggal kenangan semata. Ini lho pak foto cincin akik saya.”

Pak Heru mengeluarkan selembar kertas dari saku kemejanya.

“Batu loyang kayak gini enam juta pak?”

“Memang batu itu tak begitu bagus, tapi khasiatnya pak. Cincin itu bertuah.”

“Lho, pak Heru ini kan guru agama kok masih percaya sama hal-hal semacam itu.”

“Ya, gimana pak. Percaya, enggak percaya tapi keberuntungan itu datang terus setelah saya mengenakan cincin akik itu.”

One thought on “Batu Loyang

  1. Respected online casino https://biamo.bet/ that makes payouts. Quick payouts, pay any way you like. A lot of different online roulette. Wide range of sports betting, online streaming, work worldwide. Come and win with us.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *