Batu Loyang

Pagi hitam dengan mendung penuh muslihat. Terlihat masih gelap namun mentari telah berbinar dari lalu. Mata sayup tertelan gulita. Tak kenal siang yang tertimbun gelap awan. Berat bagi Sukri mengangkat pelupuk matanya, padahal sedari jam tujuh malam ia tidur pulas, tetap pula sadarnya tak kunjung sempurna.

Jam tujuh, ya, cuma perkiraan saja. Tak ada jam dinding atau semacamnya di kamar kos lima kali enam itu. Sukri terbiasa menyatu dengan alam. Entah terpaksa atau tidak ia memang harus membaca keadaan.

Bangun bersama merambatnya sinar surya ke lubang-lubang jendela. Namun kali ini, cahaya itu tak tampak batang kilaunya, menjadikan mata tak sanggup menjawab panggilan pusat tata surya. Payah pula badan bangun dari pembaringan tuanya. Sempoyongan tubuhnya bangkit dan berjalan menuju WC yang tak terlalu jauh dari tempat tidurnya.

Membawa bantal dan sarung lusuh sebagai penyangga kepala yang begitu sukar tegak tegar. Mungkin tanpa alasan kebelet tak buah Sukri bangun dengan dunia yang masih begitu gulita ini.

Baru tersadar, saat ia nongkrong di warung mbok Resmi memandang jam yang ada di warungnya, memberi tahu dengan jarum pendeknya mengarah ke angka sebelas. Gulita itu hanya ilusi. Keadaan palsu telah menipunya.

Semua ulah awan tebal itu. Atau memang itu karena kesalahannya, kebodohan dan kelalaiannya sebab terlalu lama menidurkan otak dan pikirannya. Ah, tak masalah itu semua bagi Sukri. Mau ia tertipu atau tak pun juga tak ada artinya semua untuknya. Malah bersyukur ia tertipu. Toh yang ia lakukan setiap hari hanya melamun. Memperhatikan hiruk pikuk jalanan ditemani sebatang rokok dan secangkir kopi.  Pekerjaan yang ada untuk Sukri.

Itu terjadi ketika Sukri dipecat dari pekerjaannya sebagai karyawan toko swalayan, tepatnya petugas kasir. Semua terjadi begitu saja, tanpa ia sadari. Sukri tak tahu mengapa jumlah uang yang ada di kasir tak sebanding dengan catatan barang yang terjual selama seminggu terakhir.

Tanpa menunggu lagi, Sukri di perhentikan sepihak tanpa mendengar penjelasan darinya. Pesangon yang ia peroleh tak cukup untuk makan selama seminggu.

 Hingga hari ini, Sukri hanya mengutang melulu di warung mbok Resmi. Hampir setiap hari ia nongkrong di warung mbok Resmi. Bila malu, ia pergi ke warung mbok Danten untuk pindah target hutang.

Malu!!! mungkin kata itu harus ia buang jauh-jauh dari kamus hidupnya. Memotong pula urat saraf malunya hingga tak tersisa. Untuk makan, untuk hidup.

“Kau, harus cari kerja Kri, Ojo ngutang ae1!” kata mbok Resmi tiba-tiba. “hutang mu wes uakeh, wes ngunung.2

“Belum dapat kerja mbok.” Sahut Sukri seadanya. “Gimana kalau aku kerja di sini saja mbok?”

“Waddadadah, lha keuntunganku saja ndak seberapa, Piye aku nbayarikowe.3

“Di gaji makan aja mbok. Aku udah terima kok.”

Manganmu kuwi ora ukur, malah rugi aku. Wes ndang golek kerjo Kono.4

***

Terdesak Sukri melangkah berat tak tentu arah, membawa harapan pekerjaan di depan sana. Setiap toko sampai proyek pembangunan ia tanyai, adakah pekerjaan untuknya. Semua menjawab tak menerima tenaga kerja baru. Gontai dirasa, lemas patah asa dibuat hingga ia mengasokan badan, duduk di batu samping jalan.

One thought on “Batu Loyang

  1. Respected online casino https://biamo.bet/ that makes payouts. Quick payouts, pay any way you like. A lot of different online roulette. Wide range of sports betting, online streaming, work worldwide. Come and win with us.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *