Antonio, M16, dan Sungai yang Mengalir di Kepalanya

“Senjata itu namanya M16A1, dengan 30 peluru, beratnya sekitar 3 kilo. Buatan Amerika, tipe baru dari yang sebelumnya M16E1, senjata yang dipakai waktu perang Vietnam”.

“Amerika? Vietnam?”

“Entahlah, aku hanya mendengarnya dari mereka,” Versimo berbicara sambil mengangkat bahunya.

Versimo sudah 2 tahun menjadi TBO. Ia diambil dari ibunya saat berumur 8 tahun.

Semakin banyak ia mabuk, ingatan semakin mengental dan pekat. Itu membuat segala sesuatu menjadi tampak lebih jelas, dan jika sudah begitu, dengan segera percakapan demi percakapan, juga potongan demi potongan adegan akan melintas di kepalanya, bergerak sangat cepat, tak tertata dan seringkali meloncat-loncat.

Sesekali muncul gambar tentang jalan tanah yang dipenuhi krikil, pagar kayu pembatas jalan dengan tumbuhan liar yang merambat, rimbun pepohonan dengan bayangan yang terus bergerak di atas tanah, air sungai Manatuto yang mengalir membentur bebatuan lengkap dengan suara benturannya.

Dan tiba-tiba, terdengar teriakan dari Versimo, Victor, lalu Manuel, daging yang tercecer dan darah yang mengalir. Mengalir dan terus mengalir, desing peluru, desing peluru dan terus terdengar desing peluru.

***

Kini, iring-iringan telah jauh meninggalkanya. Ia masih terus berjalan menelusuri trotoar jalanan yang becek dan penuh dengan sampah, yang entah sudah berapa kali diinjak orang, hingga begitu rata dan terasa benar-benar menempel menjadi satu dengan trotoar.

Malam semakin dingin dan larut, tepat sebelum tikungan menuju rumahnya, di sepanjang trotoar, di depan toko-toko yang tutup, tubuh-tubuh meringsut tanpa selimut, dan selalu begitu sejak pertama ia datang di Kota ini.

“Antonio berapa umur mu sekarang?,” tanya seorang komandan peleton kepadanya.

“13 Pak”

“Kau sudah banyak belajar soal senjata dari Versimo bukan?”

“Iya pak,” kata Antonio sambil menunduk.

“Kau bisa mendaftar menjadi tentara sekarang? Jika tidak, kau harus pergi ke Jawa atau ke Makassar!”.

Begitulah ia kemudian mengingat kembali bagaimana dirinya bisa sampai ke Kota ini.

Sebuah Kota yang saat itu bergerak dengan sangat cepat. Kemegahan, kerusuhan, kehancuran dan kegairahan bisa saling berganti hanya dalam sehari.

Kota yang menjadi rumah juga kuburan bagi tubuh-tubuh yang papa. Kota yang pernah meneriakan pekik reformasi dan membunuhnya beberapa saat kemudian.

Kota yang berdiri tanpa ingatan, membuat orang-orang di dalamnya menjadi serupa bayi yang baru lahir setiap harinya.

Tidak peduli sebanyak apapun peristiwa terjadi, sebanyak itu pula setiap peristiwa dilupakan. Kota yang terus berubah sekaligus tetap.***

Jakarta, 10 Desember 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *