Antonio, M16, dan Sungai yang Mengalir di Kepalanya

“Ayo naik!”

Tentara itu memberikan perintah sambil mengangkat tubuhnya yang kurus dan kecil untuk naik ke dalam truk.

Di dalam truk, ia terus berteriak memanggil-manggil ibunya.

“Ibu! Ibu!”

Di atas truk yang berjalan menjauh, ia melihat bayangan ibunya semakin mengecil dan samar. Sampai kemudian benar-benar tak terlihat.

***

Dari pintu keluar, ia menyeret kakinya menyusuri trotoar. Sementara iring-iringan truk masih melintas di sisi jalan.

Kini, tampaklah ia seperti berjalan berdampingan dengan iring-iringan. Ia berjalan dengan amat pelan dan sangat hati-hati, menghindari lubang dan berjalan di bawah sepanjang sinar lampu.

Ia berjalan sambil sesekali berhenti untuk menoleh ke arah jalan. Ia pandangi lagi iring-iringan itu, tepat ketika ia melihat kembali iringan-iringan, iring-iringan yang lain, yang lebih panjang dan berisik juga melintas di dalam kepalanya.

“Cepat! Cepat! Jangan keluar barisan! Kita harus sampai sebelum petang!”

“Apa ibu datang dari Manatuto?”

“Tidak nak, kami semua rombongan yang datang dari Liquica,” kata seorang perempuan yang berjalan dengan tergesah-gesah, dengan seorang bayi di gendongannya.

“Mereka yang dari Manatuto sudah melewati perbatasan. Mereka sudah sampai ke Atambua,” kata seorang lain yang berada di barisan lain.

“Ibu …,” mulutnya bergerak sangat pelan, hampir tanpa bersuara.

Ia mencoba kembali mengingat wajah ibunya. Semakin dalam ia mengingat, yang muncul justru ingatan tentang derap kaki, debu yang berterbangan, ratusan orang yang berjalan berbaris hingga menyerupai aliran sebuah sungai, dan suara senjata yang diikuti dengan sebuah teriakan.

***

Matahari belum juga terlihat saat ia berada di dalam truk. Andai matahari keluar lebih awal, pastilah ia sekarang ada di kebun dan tidak berada di sini.

Tetapi, di mana matahari sekarang dan kenapa dia tak muncul? Mungkinkah mereka, para tentara juga melarangnya keluar seperti orang kampung, begitu pikirnya.

Di sepanjang jalan, ia terus berdoa, sambil sesekali berucap janji kepada Tuhan, bahwa ia akan lebih rajin ke gereja dan kebun jika dia bisa kembali kerumah.

Setelah selesai dengan doanya, ia membayangkan bagaimana tuhan akan mengabulkan doanya, dengan penuh imajinasi ia membayangkan bahwa truk yang membawahnya akan terguling secara tiba-tiba dan terbakar, semua orang berteriak dan tewas kecuali dirinya, hingga akhirnya dia pun berlari pulang kerumahnya yang terletak di hulu sungai Manatuto.

Tetapi hal itu tak pernah terjadi, tak pernah ada truk yang terbakar, begitu juga teriakan, yang terdengar hanyalah bising suara mesin truk dan roda yang menggilas kerikil.

Seperti halnya bocah dan kebanyakan orang di kampungnya, ia juga tidak memiliki banyak pilihan saat itu. Di kampungnya, hidup seolah-olah hanya terdiri dari dua pilihan, iya atau tidak, hidup atau mati, menjadi TBO atau pergi kehutan, menjadi tentara atau pergi ke Jawa.

Di sana, di kampungnya pula, hidup terasa amat sangat sederhana dan tanpa suara, permasalahan administrasi kependudukan, keruwetan birokrasi dan panjangnya proses hukum, semuanya telah dipangkas, selesai dengan senjata dan tendangan.

***

Sebagai seorang pemabuk, tentu ia bukanlah pemabuk yang baik. Sebab, jika kebanyakan orang berhasil mengaburkan ingatan dengan menenggak alkohol, padanya, mabuk hanya semakin mengentalkan ingatan, mengaburkan sekat antara masa kini dan masa lalu, menjadikan setiap ingatan tiba-tiba berada di ujung hidungnya.

“Apa itu tidak berbahaya?”

“Kau mau pegang? Ini peganglah!,” kata temannya Versimo, sambil menyodorkan senjata kepadanya.

Itulah kali pertama ia memegang senjata yang sebenarnya.

“Berat sekali!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *