Antara Etika dan Industri Media: Jurnalisme dalam Pusaran Industri 4.0

Dari sini etika Jurnalisme perlu menerapkan etika utilitarian yang diperkenalkan oleh John Stuart Mill, yakni suatu etika di mana nilai moral ditentukan dengan mengukur berapa banyak orang yang diuntungkan dan dirugikan.

Apabila lebih banyak yang diuntungkan secara signifikan, maka tindakan tersebut sah untuk dilakukan. Apabila terdapat kekhawatiran citra pejabat tercoreng negatif, maka edukasi ke masyarakat perlu diupayakan bahwa status tersangka itu artinya masih belum diputuskan di pengadilan.

Dengan demikian persepsi publik terhadap status tersangka seseorang tidak terburu menghakimi, tetapi ikut pengawal hukum acara dan pengadilan sang tersangka supaya mendapat kejelasan yang terang benderang.

Soal keterlibatan peran pers yang apabila menghendaki perubahan ke arah lebih baik untuk semua elemen masyarakat, maka seharusnya juga dilihat terlebih dahulu basis sumber daya alam kita yang kian hari kian memperihatinkan. Isu lingkungan jarang sekali disorot secara mendalam oleh media, apalagi media mainstream.

Isu lingkungan hanya diberitakan seperti isu rendahan dan sampingan saja, sehingga dari situ opini publik dikendalikan. Apalagi lingkungan memang sulit dijangkau padahal biasanya itu adalah wilayah-wilayah yang sungguh mengalami kerusakan. Maka, jurnalisme lingkungan diharuskan belajar dari pecinta dan aktivis lingkungan/alam karena merekalah yang tahu betul keadaan alam saat ini.

Jadi, jurnalisme lingkungan bukan hanya belajar teori semata tetapi juga memerlukan kepekaan dalam memberitakan persoalan lingkungan secara profesional.

Wartawan juga perlu menjalin hubungan dengan LSM dan aktivis lingkungan yang secara aktif dan kritis mengadvokasi masalah-masalah lingkungan. Namun, tetap semestinya tidak masuk ke dalam hubungan yang terlalu dekat dan personal.

Demikian juga, wartawan juga perlu bersikap kritis terhadap perusahaan-perusahaan yang bersentuhan langsung dengan isu lingkungan, sekaligus seharusnya tidak terjebak pada api permusuhan dan tanpa respek sama sekali. Wartawan harus respek dan besikap kritis terhadap semua pihak yang masuk dalam objek pemberitaan.

Dengan mengandaikan imparsialitas dan independensi wartawan, isu lingkungan harus dibicarakan terus dengan kecepatan informasi di era industri 4.0 supaya pembangunan berkelanjutan tercapai dengan basis alam yang kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *